Kemenag Siapkan Instruktur Nasional Moderasi Beragama

Tangerang (Kemenag) — Pengarusutamaan moderasi beragama terus diupayakan Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu ikhtiarnya adalah menyiapkan instruktur nasional moderasai beragama.

Hal ini dilakukan Ditjen Pendidikan Islam melalui Pendidikan Instruktur Nasional Moderasi Beragama (PIN-MB). Kegiatan ini diikuti 60 dosen dan 100 mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). 

PIN-MB dibuka Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Imam Safei. Menurutnya, kegiatan ini dimaksudkan bertujuan mendiseminasikan spirit moderasi beragama melalui institusi pendidikan tinggi. “Produk pendidikan tinggi akan mengisi di berbagai lini profesi; mulai dari perkantoran, pendidikan, bahkan ranah agama,” ujar Imam di Tangerang, Jumat (27/12).

Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Ruchman Basori berharap para alumni PIN MB dapat menjadi penyeimbang informasi di tengah masyarakat, utamanya di media sosial. “Kementerian Agama sering menjadi objek kritikan atas kebijakan moderasi ini. Kami memerlukan energi tambahan untuk menjelaskan ke tengah-tengah masyarakat,” kata Ruchman menegaskan.

Hal senada disampaikan Ketua Pokja Moderasi Beragama Aceng Abdul Aziz. Menurutnya, PIN MB 2019 diharapkan dapat menjadi model penyiapan agen moderasi di setiap PTKI. 

Kegiatan pendidikan ini menghadirkan instruktur kebangsaan pusat seperti Khamami Zada, Ahmad Rozaki, Rumadi, Marzuki, Aceng Abdul Aziz, Mahrus, A Suaedy dan lainnya. Materi yang disampaikan tekait keislaman, keindonesiaan dan kebangsaan. 

“Output kegiatan adalah peserta mampu bersikap dan memiliki cara berpikir kritis dan moderat,”  kata Aceng. 

Belajar dari Muhammadiyah
Selain pelatihan dalam kelas, peserta PIN-MB juga mendapat kesempatan berkunjung ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurut Ruchman, kunjungan ini dimaksudkan agar peserta mendapatkan bekal best practise dari yang sudah dilakukan Muhammadiyah dalam melakukan counter terhadap radikalisme. 

Rombongan PIN-MB diterima Wakil Ketua Majelis Dikdasmen Didik Suhardin, Teuku Ramli Zakaria, dan Agus Tri Sundani. Kepada peserta PIN-MB, Didik Suhardi menyatakan bahwa Muhammadiyah sudah melakukan riset. “Temuannya adalah radikalisme beririsan dengan wawasan beragama dan wawasan kebangsaan,” kata Suhardin, Minggu (29/12). 

“Bagi Muhammadiyah, NKRI adalah darul ahdi was syahadah, negeri perjanjian dan persaksian,” lanjutnya.

Menurut Suhardin, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo adalah tokoh Muhammadiyah yang turut menjadi arsitek NKRI. “Sebab itu, Muhammadiyah tidak akan berkhianat kepada NKRI karena ia yang mendirikan,” tegasnya. 

Dalam hal moderatisme, sekolah Muhammadiyah menerima seluruh elemen masyarakat apa pun latar agama mereka. “Walikota Jayapura adalah alumni sekolah Muhammadiyah dan ia tetap nonmuslim. Demikian jug Bupati Alor. Pendidikan di Muhammadiyah menanamkan ketakwaan sesuai agama masing-masing. Inilah the real of moderation,” kata Suhardin.

“Muhammadiyah melakukan tindakan preventif terhadap ancaman radikalisme. Kami tegas dan punya prinsip,” tutupnya. 

Pendidikan Instruktur Nasional Moderasi beragama berlangsung empat hari, 27-31 Desember 2019.

Belajar dari NU
Selain kepada Muhammadiyah, peserta PIN-MB juga diberi kesempatan menimba ilmu dan pengalaman dalam mengawal moderasi beragama kepada Nahdlatul Ulama (NU). Dipimpin, Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Ruchman Basori, mereka diterima Wakil Katib Syuriyah NU KH. Mujib Qulyubi dan pengurus Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) Mastuki. 

Menurut Ruchman, kunjungan ini bertujuan menggali kisah sukses PBNU dalam mendesiminasikan moderasi beragama. “Pengalaman ini bisa dibawa pulang untuk inspirasi pengembangan moderasi beragama di berbagai daerah,” kata Ruchman di Jakarta, Minggu (29/12).

KH. Mujib Qulyubi mengaku bahwa radikalisme sudah merasuk ke berbagai instansi. Salah satu strategi yang diterapkan PBNU adalah mempraktikan Amaliah Nahdliyyah. Menurutnya, radikalisme muncul karena pemahaman keagamaan yang kurang mendalam. 

“Pandangan NU adalah mencintai negara secara sepenuhnya, kecuali negara melarang ibadah. Spirit NKRI harga mati diilhami Muktamar NU di Banjarmasin 1932. Dalam Bughyatul Mustarsyidin disebutkan, bahwa negeri yang bisa menyelenggarakan ibadah, maka itu adalah negara damai, Darussalam,” tutur KH Mujib.

NU, kata KH Mujib, menjaga keseimbangan. Agama 100% dan Indonesia 100%. Negara dan agama adalah saudara kembar yang wajib ditegakkan. Agama adalah fondasi. Negara adalah penjaga. Agama tanpa negara maka hilang. Negara tanpa fondasi akan sia-sia. 

Pengurus LPT NU Mastuki menambahkan bahwa NU menjaga keseimbangan warganya sebagai hamba Tuhan dan warga negara. Moderasi ada pada keseimbangan dan keadilan. Keduanya menjadi prinsip NU. Tawasuth atau wasathiyah menjadi common platform, fikrah Nahdliyyah dan manhaj. 

“Paus Fransiskus bertemu dengan Syaikh Al-Azhar. Harus diikat menjadi satu. Sebagaimana piagam Madinah yang sama-sama diakui dan melahirkan masyarakat. Bagus Kemenag sudah mengarusutamakan moderasi,” tambah Mastuki.

Meskipun demikian, kata Mastuki, menjadi moderat tidak mudah karena ia diserang dua kutub ekstrem. Moderasi pun  jangan terjebak pada ekstremisme yang lain. Melawan khilafah dengan ekstrem pun bisa bermasalah dan terjebak dalam ekstremisme lain. Sebab itu, harus berhati-hati dan berjejaring, baik di level nasional dan internasional.

“Yang jadi patokan dalam moderasi adalah kemanusiaan dan kewargaan. Segala yang bertentangan dengan kemanusiaan dan kewargaan adalah bertentangan dengan moderatisme,” tutur Mastuki. (Ditjen Pendidikan Islam)

sumber : www.kemenag.co.id

Posts created 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top